Efektivitas Penerapan Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran Puisi Siswa Kelas VI SDN 4 Manurunge Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone

EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DALAM PEMBELAJARAN PUISI SISWA KELAS VI SDN 4 MANURUNGE 
KECAMATAN TANETE RIATTANG
 KABUPATEN BONE
Oleh:
Nurbaya T.
SDN 4 Manurunge Kecamatan Tanete Riattang
           
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan keefektifan demonstrasi dalam pembelajaran puisi siswa kelas VI SDN 4 Manurunge Kecamatan Tanete Riattang kabupaten Bone. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan tentang keefektifan metode demonstrasi pembelajaran puisi siswa kelas VI SDN 4 Manurunge Kecamatan Tanete Riattang kabupaten Bone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode demonstrasi efektif dalam pembelajaran puisi kelas VI SDN 4 Manurunge Kecamatan Tanete Riattang kabupaten Bone.  Hal ini dinyatakan berdasarkan hasil eksperimen yang menunjukkan bahwa kemampuan siswa mendeklamasikan puisi dengan melalui penerapan metode demonstrasi lebih tinggi daripada kemampuan siswa mempelajari puisi tanpa penggunaan metode demonstrasi. Nilai tertinggi hasil eksperimen yaitu 10 dan nilai terendah yaitu 7 dengan nilai rata-rata 8,2. sementara, nilai tertinggi hasil kelas kontrol yaitu 7 dan nilai terendah yaitu 2 dengan nilai rata 5,2.
Kata Kunci: efektivitas, metode demonstrasi, puisi
Metode demonstrasi merupakan salah satu metode dalam pembelajaran yang pelaksanaannya dilakukan melalui penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik dalam bentuk alamiah (asli) maupun dalam bentuk buatan (tiruan), yang sering disertai dengan penjelasan lisan. Melalui metode demonstrasi, proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga membentuk pengertian yang baik dan sempurna. Djamarah (1996: 102-103) menguraikan bahwa metode demonstrasi mempunyai peran, di antaranya dapat membuat pembelajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkret, sehingga menghindari verbalisme (pemahaman secara kata-kata atau kalimat), siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari, proses pembelajaran lebih menarik, siswa dirangsang untuk lebih aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dan kenyataan, dan mencoba melakukannya sendiri.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditegaskan bahwa metode demonstrasi merupakan metode yang sangat membantu siswa untuk meningkatkan daya khayal, daya pikir, sehingga sesuatu yang diajarkan mudah dipahami dan dimengerti. Dengan demikian, materi bagaimana pun bentuknya, siswa akan lebih mudah memahami jika diajarkan melalui metode demonstrasi.
Berdasrkan uraian di atas, penulis termotivasi meneliti pembelajaran puisi melalui metode demonstrasi. Hal ini dilakukan dengan pemahaman bahwa pembelajaran deklamasi puisi saat ini sangatlah rendah intensitasnya. Padahal, aspek ini telah menjadi bagian penting dalam kurikulum yang berlaku dalam dunia pendidikan di sekolah.
Sejalan dengan hal tersebut Arsyad (2002: 5) mengemukakan bahwa kondisi pembelajaran sastra sejauh ini sangatlah kurang memuaskan. Hal ini dirasakan oleh banyak kalangan seperti: sastrawan, pemerhati sastra, masyarakat, siswa, dan bahkan juga kalangan guru sastra sendiri. Karena pembelajaran sastra itu merupakan suatu sistem, keberhasilan dan kegagalan pembelajaran sastra dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti: kurikulum sastra di sekolah, sarana dan prasarana, pengadaan buku dan perpustakaan, minat baca, iklim bersastra, metode, dan sebagainya. Berdasarkan fenomena yang terurai di atas motivasi penulis mengkaji tentang metode dalam pembelajaran deklamasi puisi dengan memilih judul: “Keefektifan Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran Puisi Siswa kelas VI SDN 4 Manurunge Kecamatan Tanete Riattang kabupaten Bone .”. Permasalahan ini diangkat untuk menyelesaikan segala isu pembelajaran deklamasi puisi sekarang ini yang dianggap bahwa siswa kurang berminat terhadap deklamasi puisi. Melalui metode demonstrasi sebagai sasaran penelitian ini, dapat ditemukan tentang metode pembelajaran puisi di sekolah dasar.
METODE DEMONSTRASI
Dalam mengajar anak lebih mudah diberikan pelajaran dengan cara menirukan seperti apa yang dilakukan gurunya. Dalam hal ini, guru mengajar melalui demonstrasi. Demonstrasi berarti menunjukkan, mengerjakan dan menjelaskan. (Komaria Asikin, dkk. 2001: h. 89). Sementara itu menurut Diah Harianti, (2003: h. 149) menyatakan bahwa demonstrasi juga diartikan sebagai suatu metode dimana guru mempertunjukkan atau memperagakan suatu objek, benda atau proses dari suatu kejadian atau perisitiwa.
Dari pengertian di atas terungkap bahwa terdapat tiga komponen yang paling penting pada metode demonstrasi yakni menunjukkan, mengerjakan dan menjelaskan. Dalam penerapannya ketiga hal tersebut dipadukan dengan penemuan sehingga guru memberikan pertanyaan yang mengarahkan misalnya bila seorang kakek akan menyeberangi jalan,maka apa yang siswa lakukan.
Metode demonstrasi yang dipadukan dengan penemuan, memungkinkan guru membimbing anak untuk menemukan hal – hal yang baru berdasarkan praduga atau hipotesis yang disusun oleh anak. Metode demonstrasi perlu dilakukan dalam rangka pengembangan motivasi anak peserta didik karena mengingat kecenderungan anak untuk mencontoh atau meniru orang lain sebagai salah satu naluri yang sangat kuat. Sifat anak tersebut sangat konstruktif dan memiliki manfaat sebab guru dapat memotivasikan anak didik untuk melakukan segi – segi yang berguna dari kehidupan, seperti bagaimana cara makan, berpakaian dan lain –lain.
Hal ini diakui oleh Yudi Kurniawan (2000: h. 75) dengan mengemukakan bahwa mendidik dan mengajar anak dengan memberikan contoh adalah lebih efektif ketimbang menasehatinya belaka. Adapun tujuan metode demonstrasi bagi siswa sebagai berikut :
a. Demonstrasi merupakan salah satu wahana untuk memberikan pengalaman belajar agar anak dapat menguasai materi pelajaran dengan baik.
b. Melalui kegiatan demonstrasi, anak dibimbing menggunakan mata dan telinga secara terpadu, sehingga hasil pengamatan kedua indera itu dapat membantu penguasaan materi pelajaran yang diberikan.
c. Melalui kegiatan demonstrasi, kepada anak dapat ditanamkan nilai – nilai sosial dan nilai – nilai keagamaan melalui demonstrasi.
Jadi pada hakikatnya, demonstrasi menjadikan guru sebagai teladan yang baik para siswanya sehingga mampu menjadi sosok yang menjadi pusat perhatian dan sosok yang pantas untuk ditiru dan dibanggakan oleh para siswa.
METODOLOGI PENELITIAN
Sebagai gambaran umum dari proses berlangsungnya penelitian, diuraikan desain penelitian yang digunakan dalam mengumpulkan data, yaitu: (1) Memberi perlakuan yang berbeda pada kedua kelompok. Salah satu kelompok tersebut dijadikan sebagai kelompok eksperimen dan kelompok yang lain sebagai kelompok kontrol. Kedua kelompok itu dianggap mempunyai kemampuan yang sama. (2) Teknik perlakuan. Untuk memperoleh data yang akurat, kelompok eksperimen diterapkan metode demonstrasi dalam pembelajaran deklamasi puisi, sedangkan  pada kelompok kontrol diterapkan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah.(3) Puisi yang diajarkan pada kelompok eksperimen sama dengan puisi yang diajarkan pada kelompok kontrol.  Teknik pengumpulan data, (1) Eksperimen, yaitu mengadakan eksperimen atau percobaan terhadap suatu masalah pokok dalam penelitian ini dengan mengujicobakan metode demonstrasi pada kelas eksperimen, sedangkan pada kelas kontrol menerapkan metode konvensional dalam pembelajaran deklamasi puisi. (2) Teknik tes dilakukan setelah menerapkan atau melakukan metode demonstrasi pada kelas eksperimen. Tes yang diberikan berupa tes mendeklamasikan puisi yang berisi indikator-indikator penilaian keterampilan mendeklamasikan puisi, seperti penguasaan suara, intonasi, lafal, penghayatan, dan gerak/mimik. Setiap aspek berskor antara 0-20. jadi, skor maksimal hasil tes siswa yaitu 100. Dalam penelitian ini, data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik statistik deskriptif dan teknik analisis eksperimen jenis uji t.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini diuraikan hasil penelitian tentang keefektifan metode demonstrasi dalam pembelajaran puisi siswa kelas VI SDN 4 Manurunge Kecamatan Tanete Riattang kabupaten Bone . Data yang diperoleh terdiri atas dua bagian, yaitu data hasil kemampuan mendeklamasikan puisi pada siswa kelas eksperimen dan siswa pada kelas kontrol.
Pada bagian ini diuraikan temuan yang diperoleh dari hasil analisis data penelitian. Berdasarkan hasil analisis data pretes kelas eksperimen (X­1) diketahui bahwa rata-rata hasil tes siswa adalah 4,7, sedangkan rata-rata hasil postes siswa setelah menggunakan metode demonstrasi dalam pembelajaran puisi adalah 8,2. Hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan deklamasi puisi siswa antara sebelum diberikan treatment (tindakan) dan setelah diberikan treatment (tindakan). Peningkatan kemampuan deklamasi puisi tersebut berkisar 3,5.
Selanjutnya, pada kelas kontrol hasil pretest kemampuan deklamasi puisi menunjukkan nilai rata-rata 4,5, sedangkan nilai rata-rata posttest adalah 5,2. Hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan deklamasi puisi siswa tanpa menggunakan metode demonstrasi, tetpai tidak terlalu signifikan karena peningkatannya hanya 0,7. Pada aspek kategori kemampuan siswa mendeklamasikan puisi antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol sebelum tindakan menunjukkan tidak ada perbedaan. Hal ini terlihat berdasarkan perolehan nilai rata-rata siswa kelas eksperimen 4,7 dan kelas kontrol 4,5 (kategori sangat rendah). Jadi, kemampuan siswa mendeklamasikan puisi sebelum tindakan adalah sama, yaitu sangat rendah. Tidak adanya perbedaan kemampuan awal siswa mendeklamasikan puisi merupakan syarat utama dan efektif untuk melakukan penelitian yang bersifat eksperimen karena akan memperoleh hasil yang menunjukkan penerapan metide demonstrasi dalam pembelajaran puisi.  Dengan demikian, kemampuan siswa deklamasi puisi setelah tindakan kelas eksperimen dikategorikan tinggi. Hal ini terlihat dari perolehan nilai rata-rata siswa sebanyak 8,2 berada pada rentang nilai 8,0-8,9 (kategori tinggi), sedangkan kemampuan siswa kelas kontrol dikategorikan rendah. Hal ini terlihat dari perolehan nilai rata-rata siswa 5, berada pada rentang nilai 0,0-5,4 (kategori sangat rendah). Dapat dikatakan perolehan nilai rata-rata posttest siswa kelas keksperimen lebih tinggi daripada nilai rata-rata posttest siswa kelas kontrol. Jadi, dapat dikatakan bahwa metode demonstrasi efektif dalam pembelajaran puisi siswa, tetapi tidak terlalu signifikan.
Keefektifan metode demonstrasi dalam pembelajaran puisi siswa tampak pula pada hasil perhitungan uji t. perbandingan hasil kemampuan mendeklamasikan puisi antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol yang ditunjukkan melalui hasil perhitungan thitung sebanyak 1,66 > nilai ttabel 1,31. hal ini menunjukkan bahwa hipotesis penelitian yang diajukan diterima. Jadi, metode demonstrasi efektif (signifikan) dalam meningkatkan kemampuan deklamasi puisi.
Efektifnya metode demonstrasi dalam meningkatkan kemampuan siswa mendeklamasikan puisi menurut penulis disebabkan oleh beberapa faktor. Tersebut diantaranya adalah pemahaman siswa tetang teknik-teknik mendeklamasikan pisi, termasuk penguasaan dan pemahaman puisi yang dideklamasikan dengan melalui pengamatannya atas demonstrasi yang telah diterapkan. Selain itu, tampak siswa menampakkan pelafalan yang jelas, intonasi, pengelompokan kata, penghayatan, dan penjiwaan karena telah diberikan teknik dalam mendeklamasikan puisi, sehingga siswa mudah memerangkan sesuatu yang diperagakan melalui kegiatan eksperimen guru. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa model sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran puisi dapat meningkatkan kemampuan siswa mendeklamasikan puisi.
Dilihat dari kualitas dan kreatifitas, tampak siswa berminat terhadap karya sastra, khususnya deklamsi puisi. Bahkan siswa memiliki kompetensi  dalam bidang sastra. Hal ini terlihat dari penampilannya ketika sedang mendeklamasikan puisi. Siswa tampak senang menyampaikan isi yang tersirat dalam puisi sebagai pesan moral pengarang terhadap pendengar. Dalam hal ini, siswa dapat mewakili pengarang menyampaikan pesannya terhadap penikmat sastra, tinggal siswa membiasakan diri mendeklamasikan puisi kapan dan di mana saja sebagai suatu bentuk aperisasi terhadap puisi.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dinyatakan bahwa tingginya kemampuan mendeklamasikan puisi siswa yang diajar dengan menggunakan metode demonstrasi karena penampilan yang dipertunjukkan sangat memadai. Dalam hal ini, semua indikator penilaian mampu diperagakan dengan baik, misalnya pelafalan, pengelompokkan kata larik puisi dengan tepat, intonasi, penjiwaan, dan penampilannya.
Melalui penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran puisi siswa kelas VI SDN 4 Manurunge Kecamatan Tanete Riattang kabupaten Bone. memberikan suatu nuansa baru dalam pembelajaran puisi, khususnya pada aspek deklamasi puisi. Dalam hal ini, tampak melahirkan dampak pengirim. Maksudnya, selain siswa  mampu mendeklamasikan puisi sebagai bentuk intelektual/kecerdasan, juga menjadikan siswa yang beremosional dan berspiritual yang positif sehingga dapat menghargai dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam puisi yang telah dideklamasikan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan tentang keefektifan metode demonstrasi pembelajaran puisi siswa kelas VI SDN 4 Manurunge Kecamatan Tanete Riattang kabupaten Bone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode demonstrasi efektif dalam pembelajaran puisi kelas VI SDN 4 Manurunge Kecamatan Tanete Riattang kabupaten Bone. Hal ini dinyatakan berdasarkan hasil eksperimen yang menunjukkan bahwa kemampuan siswa mendeklamasikan puisi dengan melalui penerapan metode demonstrasi lebih tinggi daripada kemampuan siswa mempelajari puisi tanpa penggunaan metode demonstrasi. Nilai tertinggi hasil eksperimen yaitu 10 dan nilai terendah yaitu 7 dengan nilai rata-rata 8,2. sementara, nilai tertinggi hasil kelas kontrol yaitu 7 dan nilai terendah yaitu 2 dengan nilai rata 5,2.
Berdasarkan kesimpulan di atas, diajukan saran sebagai berikut:  (1) Hendaknya guru bahasa dan sastra Indonesia di kelas VI SDN 4 Manurunge Kecamatan Tanete Riattang kabupaten Bone lebih meningkatkan pembelajaran deklamasi puisi dengan memperhatikan aspek suara, inotasi, lafal pengayatan, dan mimik, dan sebagainya.(2) Guru bahasa dan sastra Indonesia di kelas VI SDN 4 Manurunge Kecamatan Tanete Riattang kabupaten Bone menugasi siswa agar selalu ikut dalam kegiatan lomba baca/deklamasi puisi, baik sebagai peserta ataupun sebagai penikmat (audiens). Dengan demikian, siswa akan menyadari dan memahami  sendiri teknik mendeklamasikan puisi yang benar. (3) Guru hendaknya selalu menggunakan metode demonstrasi dalam pembelajaran deklamasi puisi, karena metode ini dianggap dapat membantu siswa mampu mendeklamasikan puisi.

DAFTAR PUSTAKA

 Aftaruddin, Pesu. 1983. Pengantar Apresiasi Puisi. Bandung: Angkasa Bandung.
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya sastra. Malang: Sinar Baru Algesindo.
Arikunto, Suharsimi. 2002/ Metode Statistika. Bandung.
Depdikbud. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Balai Pustaka.
Djamarah, Syaiful Bachri. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Junaedi, Moha. 1992. Apresiasi Sastra Indonesia. IKIP Ujung Pandang: CV Putra Maspul Offset.
Kurikulum Berbasis Kompetensi. 2004. Standar Kompetensi  Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.
Mulyana. 1997. Puisi, Pendekatan dan Pembelajaran. Jakarta: Nuansa.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Penilaian Pengajaran bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.
Purwo. 1991. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Sinar Baru.
Rahmanto. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
Saliwangi, Basenang. 1989. Strategi Mengajar Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang.
Sannang, Ramli. 1982. Pengantar Metode Pengajaran dan Implikasinya dalam Pengajaran. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.
Shadly, Hasan, dkk. 1980. Ensiklopedia Bahasa Indonesia. Jakarta: Ichtiar Baru.
Sudijono, Anas. 1987. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sudjana, Nana. 1995. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sunaryo. 2005. Teori Puisi. Jakarta: Depdiknas, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

0 komentar

Write Down Your Responses