Peningkatan Keterampilan Menulis Paragraf Melalui Penerapan Kegiatan menulis Jurnal dan Pemamfaatannya untuk Penilaian Autentik pada Siswa Kelas X SMA negeri 1 Ajangale Kecamatan Ajangale Kabupaten Bone

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF MELALUI PENERAPAN KEGIATAN MENULIS JURNAL DAN PEMANFAATANNYA UNTUK PENILAIAN AUTENTIK PADA SISWA  KELAS X SMA NEGERI  1 AJANGALE
 KECAMATAN AJANGALE KABUPATEN BONE

Oleh:
Rosdiana
SMA Negeri 1 Ajangale Kecamatan Ajangale
Abstrak: Penelitian tindakan kelas tersebut dilakukan dalam tiga siklus penelitian. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas X A SMA Negeri 1 Ajangale Kecamatan Ajangale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan tersebut dapat meningkatkan keterampilan menulis paragraf siswa, baik dari segi kuantitas maupun kualitas paragraf yang dihasilkan. Kegiatan menulis jurnal juga membuat kegiaan menulis menjadi lebih menarik dan bermakna bagi siswa.  Peningkatan tersebut tidak terlepas dari upaya guru memberi respon, mengembangkan dialog, memodelkan cara menulis paragraf yang benar, mencermati kesalahan yang kerap dilakukan siswa, membiasakan secara tetap, serta memberikan berbagai arahan untuk membangkitan kreativitas siswa dalam menulis paragraf. Bimbingan dan arahan guru itu tetap diberikan, meskipun menulis jurnal adalah kegiatan menulis yang bersifat informal. Berdasarkan pembahasan hasil penelitian disarankan kepada guru bahasa Indonesia sebaiknya kegiatan pembiasaan menulis jurnal terus diterapkan dan dilakukan dengan disertai bimbingan yang intensif dan terarah.
Kata Kunci : Menulis paragraf, Menulis jurnal, Penilaian autentik
Pembelajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan komunikatif itu diarahkan untuk membentuk kompe­tensi komunikatif, yakni kompetensi kemampuan untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, baik pada aspek pemahaman, aspek penggunaan, maupun aspek apresiasi (Suparno 2001). Hal tersebut diatas berarti, melalui pembelajaran bahasa Indo­nesia diharapkan siswa memiliki kemampuan untuk menangkap makna dari sebuah pesan atau informasi yang disampaikan serta memiliki kemam­puan untuk menalar dan menge­mukakan kembali pesan atau informasi yang diterimanya itu. Siswa juga diharapkan memiliki kemampuan untuk mengekpresikan berbagai piki­ran, gagasan, pendapat, dan pera­saan dengan menggunakan bahasa yang baik. Kompetensi komunikatif itu dapat dicapai melalui proses pemahiran yang dilatihkan dan dialami dalam kegiatan pembelajaran.
Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang berkaitan dengan pengungkapan pikiran, gagasan, pen­dapat, dan perasaan tersebut adalah keterampilan menulis paragraf. Kete­ram­pilan menulis paragraf sebagai keterampilan berbagasa yang bersifat produktif-aktif merupakan salah satu kompetensi dasar berbahasa yang harus dimiliki siswa agar terampil berkomunikasi secara tertulis. Siswa akan terampil mengorganisasikan gagasan dengan runtut, menggunakan kosakata yang tepat dan sesuai, memperhatikan ejaan dan tanda baca yang benar, serta menggunakan ragam kalimat yang variatif dalam menulis jika memiliki kompetensi menulis paragraf yang baik.
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan di kelas, ditemukan bahwa menulis kerap kali menjadi suatu hal yang kurang diminati dan kurang mendapat respon yang baik dari siswa. Siswa tampak mengalami kesulitan ketika harus menulis. Siswa tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika pembelajaran menulis dimulai. Mereka terkadang sulit sekali menemukan kalimat pertama untuk memulai paragraf. Siswa kerap menghadapi sindrom kertas kosong (blank page syndrome) tidak tahu apa yang akan ditulisnya. Mereka takut salah, takut berbeda dengan apa yang diinstruksikan gurunya.
Keterampilan menulis di kelas terkadang juga hany diajarkan pada saat pembelajaran menulis saha, pahadal pembelajan keterampilan menulis dapat dipadukan atau diintegrasikan dalam setiap proses pembelajaran di kelas. Pengintegrasian itu dapat bersifat internal dan eksternal. Pengintegrasian internal berati pembelajaran menulis diin­tegrasikan dalam pembelajaran ke­terampilan bebahasa yang lain. Menulis dapat pula diintegrasikan secara eksternal dengan mata pelajaran lain diluar mata pelajaran bahasa Indonesia.
Kecenderungan lain yang terjadi adalah pola pembelajaran menulis di kelas yang dikembangkan dengan sangat terstruktur dan mekanis, mulai dari menentukan topik, membuat kerangka, menentukan ide pokok paragraf, kalimat utama, kalimat penjelas, ketepatan penggunaan pungtuasi dan sebagainya. Pola tersebut selalu berulang tiap kali pembelajaran menulis. Pola tersebut tidak salah, tetapi pola itu menjadi kurang bermakna jika diterapkan tanpa variasi strategi dan teknil lain. Akibatnya, waktu pembelajaran pun lebih tersita untuk kegiatan tersebut, sementara kegiatan menulis yang sebenarnya tidak terlaksana atau sekedar menjadi tugas di rumah. Kegiatan menulis seperti ini bagi siswa menjadi suatu kegiatan yang prosedural dan menjadi tidak menarik. Penekanan pada hal yang bersifat mekanis adakalanya membuat kreatifitas menulis tidak berkembang karena hal itu tidak mengizinkan gagasan tercurah secara alami. Bahkan, Tompokins (1994:105) menegaskan bahwa terlalu menuntut kesempurnaan hasil tulisan dari siswa justru dapat menghentikan kemauan siswa untuk menulis.
Pembelajaran menulis juga sering membingungkan siswa karena pemilahan-pemilihan yang kaku dalam mengajarkan jenis-jenis tulisan atau jenis-jenis paragraf, seperti narasi, eksposisi, deskripsi, dan argumentasi. Pengategorian yang kaku itu membuat siswa menulis terlalu berhati-hati karena takut salah, tidak sesuai dengan jenis karangan yang dituntut. Padahal, ketakutan untuk berbuat salah tersebut dapat mematikan kreativitas siswa untuk menulis. Selain itu, Halliday (dalam Tompkins & Hoskisson, 1991:187) menyatakan bahwa pengategorian jenis-jenis karangan tersebut terlihat artifasial ketika kita meminta siswa menggunakannya untuk berbagai tujuan yang berbeda, sebab siswa terkadang mengom­binasikan dua atau lebih kategori untuk mengemukakan sebuah gagasan dalam tulisannya.
Menulis merupakan suatu kete­ram­pilan dan keterampilan itu hanya akan berkembang jika dilatihkan secara terus menerus atau lebih sering. Memberikan kesempatan lebih banyak bagi siswa untuk berlatih menulis dalam berbagai tujuan merupakan sebuah cara yang dapat diterapkan agar keterampilan menulis meningkat dan berkembang secara cepat.
Permasalahan lain yang terkait dengan pembelajaran keterampilan menulis di sekolah adalah sistem penilaian dan pencapaian target kurikulum pembelajaran yang hanya diukur berdasarkan hasil tes-tes tertulis di akhir caturwulan, semester, atau tahun pelajaran. Padahal, tidak semua keterampulan berbahasa dapat dievaluasi dengan menggunakan paper and pencil tests (Saukah, 1999). Untuk mengetahui kemampuan dan perkembangan keterampilan berba­hasa, termasuk menulis tidak tidak cukup hanya dilihat melalui jawaban soal-soal yang diberikan satu atau dua kali ditengah dan diakhir semester (subsumatif dan sumatif). Tes-tes tertulis hanya salah satu bagian saja dari proses penilaian.
Menyikap hal tersebut perlu diterapkan suatu model penilaian keterampilan menulis yang autentik dari komprehensif dengan berbagai teknik dan prosedur. Model penilaian tersebut melihat perkembangan dan keberhasilan keterampilan berbahasa siswa secara berkelanjutan (Pulh, 1997:6). Penilaian tersebut juga harus dilakukan secara autentik, yaitu didasarkan proses perkembangan dan data-data autentik yang menggam­barkan keterampilan berbahasa yang dikuasainya (Nurhadi, 2003:19). Dalam konteks yang lebih komu­nikatif, penilaian pun tidak hanya dilakukan oleh guru, siswa dapat belajar saling menilai dengan temannya, bahkan belajar menilai dirinya sendiri.
KEGIATAN MENULIS JURNAL
Salah satu cara alternatif yang dapat diterapkan untuk membiasakan dan melatihkan keterampilan menulis pada siswa, khususnva menuiis paragraf adalah dengan menuiis jurnal atau dalam istilah yang lebih umum dikenal dengan menulis buku harian. Pembiasaan dan rutinitas menulis tersebut akan menjadi suatu kebiasaan perilaku yang positif. Dengan menulis jurnal. siswa dapat berlatih menulis lebih sering dan lebih bebas di luar jam pembelajaran menulis secara khusus. Siswa akan terbiasa mengungkapkan gagasan atau perasaannya secara tertulis dalam bentuk paragraf-paragraf yang baik. Jurnal dapat menjadi sarana yang membantu siswa untuk belajar menulis dengan lebih menyenangkan dan berhasil (Eanes, 1997:457).
Kegiatan menulis jurnal itu tidak hanya dilakukan ketika pembelajaran menulis, pada pem­belajaran bahasa Indonesia dengan fokus keterampilan lain kegiatan tersebut juga dapat disisipkan. Guru dapat menyediakan waktu setiap bari atau beberapa hari dalam seminggu sekitar sepuluh sampai dengan lima bela menit bagi siswa untuk menuiis jurnal pribadinva (Capacchione, 1989:15; Tompkins & Hoskisson, 1991:189). Dalam konteks sistem pembelajaran sekolah di Indonesia sekilas terkesan penyedian waktu ini mengurangi alokasi waktu pembelajaran pokok, tetapi bila disadari lebih jauh pengurangan alokasi waktu pembelajaran ini, yang dimanfaatkan untuk menulis jurnal, dapat memberi manfaat yang besar bagi siswa.
Rutinitas menulis jurnal yang dilakukan siswa memberi manfaat positif bagi perkembangan kemam­puan menulis. Selain itu, dapat pula meningkatkan penguasaan aspek pembahasaan yang lain secara tidak langsung. Secara berkesinambungan siswa akan teriatih mengemukakan gagasan dan perasaannva dengan pilihan kata, kalimat; struktur penyajian, dan pola pengernbangan yang baik. Sebab, untuk terampil menulis, anak-anak harus sering dan bebas menulis (serta membaca) supaya mereka terampil dalam menggunakan struktur yang kompleks dan benat secara tata bahasa ( Leonhardt, 200l : 22).
Kegiatan menulis jurnal me­ngajak siswa untuk lebih bebas dan kreatif mengekspresikan diri lewat bahasa tulis. Dalam kegiatan menulis jurnal, kemampuan komukasi secara tertulis dikembangkan, siswa meng­komunikasikan hal-hal yang mereka amati, berbagai informasi, dan berbagai ide (Saukah, 2000). Dalam jurnal siswa dapat menuliskan berbagai hal, tanpa tekanaii dan ketakutan membuai kesalahan. Jika anak terbiasa menulis secara mandiri, maka mereka akan belajar cara menulis dengan fokus vang tajam dan jelas (Leonhard. 2GG 1:21).
Tulisan dalam jurnal merupakan produk yang alamiah dan bersifat spontan. Siswa dapat menuliskan pengalaman keseharian vang dialami atau dirasakannya, tanggapannya tentang kegiatan pembelajaran, tanggapannya tentang suatu bacaan yang dibacanya, tanggapan terhadap lingkungan di sekitarnva atau hal-hal lain yang menurutnva menarik untuk di tulis. Melalui kegiatan menulis jurnal siswa berlatih dan membiasakan diri mengemukakan gagasan, mengekspresikan diri, atau menanggapai hal-hal yang menarik perhatiannya dalam bentul: paragraf-paragraf. Kegiatan menulis jurnal ini memberikan kesempatan siswa untuk menulis dengan lebih bebas. untuk keperluan tugas-tugas menulis seeara formal, tulisan dalam jurnal dapat menjadi pilihan sumber ide awal untuk dikembangkan.
Konsep jurnai dalam penelitian ini adalah tulisan-tulisan yang ditulis siswa daiam buku catatan khusus yang sifatnva informal, spontan, rutin, dan personal. Hal­ha1 yang ditulis adalah tentang pengalaman pribadi, curahan perasaan atau gagasan, tanggapan tentang),  bacaan, tanggapan tentang proses pembelajaran. atau hal-hal lain yang menarik minat dan perhatian siswa. Topik-topik yang ditulis dalam jurnal itu dapat dipilih secara bebas atau ditentukan sesuai konteks pembelajaran. Selanjutnya, tulisan siswa tersebut diberi respon oleh guru sebagai upaya meningkatkan motivasi siswa untuk menulis.
Sebagai tulisan informal maka aspek yang ditekankan dalam menulis jurnal adalah kelancaran/kefasihan (fluencv) dalam mengemukakan suatu gagasan secara tertulis. Kejelasan isi tulisan lebih ditekankan dari pada aspek-aspek mekanik, seperti ketepatan ejaan atau penggunaan pungtuasi. Namun. bukan berarti aspek mekanik diabaikan oleh guru dalam pembelajaran. justru sebaiknya, tulisan-tulisan jurnal siswa dapat menjadi bahan acuan dan refleksi bagi guru untuk mengetahui tingkat pemahaman dan penguasaan siswa terhadap aspek-aspek tersebut.
Meskipun tulisan dalam jurnal siswa bersifat bebas, tulisan-tulisan tersebut tetap dapat dipantau dan mendapat respon dari guru. Respon yang diberikan bukan sekedar mengoreksi kesalahan-kesalahan mekanis penulisan, tetapi berupa respon yang lebih bersifat positif. Respon positif itu berupa komentar atau tanggapan yang berhubungan dengsan isi tulisan sehingga dapat menjadi penguatan atau motivasi bagi siswa untuk terus menulis. Tulisan-tulisan respon itu juga tidak lebih panjang dari tulisan siswa dan ditulis dengan kalimat vang baik dan benar, sehingga tulisan tersebuut dapat menjadi model bagi siswa. Kegiatan pemberian respon secara tertulis itu memungkinkan terjalinnya interaksi dinamis antara guru dan siswa lewat bahasa tulis, dalam konteks pendekatan komunikatifpembelajaran bahasa.
Dalam pelaksanaannva kegiatan menulis jurnal dapat dilakukan melalui tiga tahapan. Ketiga tahapan itu adalah (1) tahap pendahuluan. (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap penilaian. Pada tahap pendahuluan, kegiatannya pokoknya terdiri dari pemahaman konsepdan pemodelan kegiatan yang akan dilakukan. Pada tahap peiaksanaan. kegiatan pokoknya adalah pengintegrasian menulis jurnal dalam pembelajaran, pembiasaan menulis jurnal secara berlanjut, pemberian penguatan dan respon guru, serta pemberian bimbingan. untuk mengembangkan kreativitas iswa dalam menulis. Pada tahap penilaian, kegiatan penilaian yang dilakukan dalam bentuk penilaian proses dan penilaian hasil.
Pemanfaatan Kegiatan Menulis Jurnal sebagai Bahan Penilaian Autentik
Aspek lain yang tidak dapat diabaikan dalam upaya peningkatan keterampilan menulis paragraf adalah cara penilaian yang dilakukan dalam pembelajaran. Penilaian yang sesuai untuk menilai perkembangan keterampilan menulis paragraf siswa adalah penilaian autentik. Penilaian autentik sesuai untuk diterapkan karena penilaian tersebut bersifat menyeluruh, berkesinambungan, dan berdasarkan pada data autentik berupa tulisan siswa yang sebenarnya. Penilaian itu tidak hanya mengacu pada produk akhir, tetapi juga mengacu pada kinerja dan proses perkembangan beiajar siswa secara berkelanjutan.
Tulisan siswa dalam jurnal dapat digunakan sebagai salah satu bahan untuk penerapan penilaian autentik. Penilaian autentik yang memanfaatkan tulisan siswa dalam jurnalnya memberikan gambaran yang sebenarnya (autentik) tentang performansi keterampilan menulis paragraf siswa. Penilaian ketcrampilan menulis tersebul bersifat kompleks dan berkelanjutan.
Realisasi penerapan penilaian autentik dengan memanfaatkan jurnal berguna untuk memberi informasi tentang perkembangan kosakata, struktur kalimat, kelancaran dan kepaduan penataan gagasan dalam paragraf; serta penggunaan aspek­aspek mekanik yang diperoleh siswa setahap demi setahap. Jurnal rnenjadi sebuah portofolio yang memberikan data tentang perkembangan keterampifan menulis siswa secara menyeluruh. Selain itu. berbagai kekurangan dan kesalahan yang terdapat tulisan siswa melalui penilaian autentik dapat dibenahi dan dapat menjadi pertimbangan peren­cananaan pembelajaran selanjut­nva sehingga konsep penilaian yang, sesungguhnya terlaksana.
Salah satu model atau perangkat penilaian autentik dalam pembelajaran keterampilan menulis yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan tulisan dalam jurnal siswa. Jurnal dapat menjadi sebuah afternatif bahan penilaian yang efektif untuk mengetahui dan melihat perkembangan keterampilan menulis siswa. Jurnal siswa dapat menjadi bagian dari portofoiio yang merekam perkembangan menulis dari waktu ke waktu. Selain itu, pemanfaatan jurnal dalam penilaian menjadikan penilaian tidak hanya dilakukan guru, tetapi siswa juga dapat dilatih untuk melakukan penilaian diri-sendiri (self-assesment) terhadap tulisan-tulisan yang telah dibuatnya. Siswa juga dapat memilih sebuah tulisan andalan dalam jurnal yang ditulisnya untuk dinilai atau ditanggapi oleh temannva (peer-assesment). Bahkan bila siswa tidak keberatan, orangtuanya pun dapat membaca dan memberikan penilaian terhadap tulisan-tulisan dalam jurnal itu.
Melalui kegiatan ini siswa dapat berpikir kritis, mengamati, menemukan kesaiahannya sendiri kemudian berupava membuat tulisan yang lebih baik. Bila kegiatan ini dapat dilakukan secara efektif dan optimal, maka diharapkan keteram­pilan menulis siswa, khususnya keterampilan menulis paragraf dapat meningkat. Proses penilaian dan pembelajaran menulis pun menjadi lebih bermakna hagi siswa.
METODE PENELITIAN
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X A SMAN 1 Ajangale. Seluruh siswa akan dikenai tindakan karena penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mengikuti alur pembelajaran sebenarnya
Data yang ingin diperoleh adalah data tentang proses kegiatan dan data tentang hasil kegiatan menulis jurnal. Data-data itu meliputi (1 ) data awal tentang kemampuan kcterampilan menulis paragraf siswa (2) data pokok tentang upaya peningkatan keterampilan menulis paragraf melalui tindakan pemahaman konsep dan pemodelan kegiatan menulis jurnal. (3) data pokok tentang upaya peningkatan keterampilan menulis paragraf melalui tindakan pelaksanaan dan pembiasaan kegiatan menulis jurna1, (4) data pokok tentang upaya peningkatan keterampilan menulis paragraf melalui tindakan penilaian autentik dengan meman­faatkan tutisan­tulisan dalam jurnal siswa, serta (S) data pendukung tentang perkembangan keterampilan menulis siswa setelah tindakan. Analisis data dalam penelitian ini akan dilakukan dengan dasar analisis data model alir yang terdiri atas tiga tahapan yaitu (1)  mereduksi data, (2) menyajikan data, dan (3) menarik kesimpulan dan memverifikasi. Analisis data tersebut dilakukan selama dan sesudah penelitian, mulai dari tahap perencanaan kegiatan, pelaksanaan. Hingga refleksi kegnatan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Perencanaan Tindakan
Sesuai perencanaan yang telah dibuat tindakan pembelajaran dikembangkan dalam tiga siklus tindakan. Perencanaan yang dibuat, disesuaikan dengan satuan program semester yang telah disusun oleh guru mata pelajaran, sehingga pelaksaaaan penelitian ini tetap berjalan sesuai alur progam pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia sebagaimana mes­tinya. kegiatan menulis jurnal dalam penelitian ini menjadi kegiatan suplemen vang terintegrasi dalam pembeiajaran pokok.
Pelaksanaan setiap siklus terdiri atas tiga tindakan pokok. Adapun ketiga tindakan pokok tersebut adalah (1 ) pemahaman dan pemodelan. (2) Pelaksanaan dan pembiasaan kegiatan menulis jurnal, dan (3} pelaksanaan penilaian autentik melalui jurnal. Dalam tiap siklus, tindakan pertama dilaksanakan dengan alokasi waktu dua kali pertemuan jam pelajaran. Tindakan kedua dilakukan terinteigrasi dalam tiap jam pelajaran bahasa Indonesia selama empat kali pertemuan, guru menyediakan waktu sepuluh sampai dengan lima belas menit di menit awal atau di akhir pelajaran untuk menulis. Materi tulisan jurnal disesuaikan dengan konteks materi pembelajaran saat itu. Tindakan ketiga selain dilakukan secara bersinambungan oleh yang, dilakukan pula oleh siswa sekitar dua puluh menit pada waktu yang ditentukan. Setiap siklus siswa menulis jurnal sebanvak lima kali.
Pelaksanaan Tindakan
Penelitian dilakukan dalam tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pengamatan, analisis temuan, dan refleksi tindakan. Dalam tiap siklusnya dilakukan tiga pokok pembelajaran. Ketiga pokok pembelajaran itu adalah (1) kegiatan pemahaman konsep dan pemodelan kegiatan menulis jurnal, (2) pelak­sanaan dan pembiasan menulis jurnal, dan (3) penilaian autentik dengan memanfaatkan tulisan dalam jurnal siswa.
Pemahaman Konsep dan Pemodelan Kegiatan Menulis
Dalam kegiatan peanahaman konsep dan permodelan ini guru melakukan langkah-langkah pokok dalam pembeiajaran. langkah-langkah tersebut, yaitu (1) menyampaikan tujuan dan pokok-pokok kegiatan pem­belajaran. (2 ) membangkitkan skemata siswa. (3) menjelaskan dan mendiskusikan tentang mcnulis paragraf yang baik, (4) memberikan latihan dan contoh penulisan paragraf yang baik, (5) menghubungkan kegiatan menulis paragraf dengan menulis jurnal, (6) mendiskusikan dan menjelaskan tentang kegiatan menulis jurnal. (7) memajankan contoh-contoh jurnal sebagai model serta (8) menulis jurnal tahap awal dengan mengamati model yang disajikan. Melalui kegiatan-kegiaian itu, sisa manipu mengkontruksi sendiri konsep penge­tahuannya tentang menulis paragraf dengan pola pengembangan yang baik.
Untuk lebih mengektifkan proses pembelajaran guru meman­faatkan media pembelajaran. Media digunakan berupa (1) lembar bagan struktur paragraf, (2) contoh-contoh, tulisan yang, dikutip dari jurnal siswa, dan (3) gambar-gambar tentang berbagai peristiwa aktual yang tengah terjadi.
Pelaksanaan dan Pembiasaan Menulis Jurnal
Pada siklus I kegiatan yang dilakukan pada tahap ini ada 6 langkah pokok. Keenam langkah pokok itu adalah ( 1 ) menyediakan waktu di awal pembelajaran untuk menulis, (2) meminta siswa menulis secara bebas tentang gagasan. Perasaan, atau berbagai hal yang dialaminya, (3) membantu memun­culkan gagasan siswa melalui kegitan tanya jawab, (4) memantau dan membimbing siswa saat menulis. (5) memberi penguatan tiap kali perternuan, dan (6) mengumpulkan kembali buku jurnal yang telah ditulis untuk diberi respon
Pada siklus II langkah-langkah pembalajaran tersebut tetap sama, tetapi lebih bervariasi dibanding langkah-langkah pembelajaran pada siklus I. Pada pertemuan pertama, guru meminta Siswa untuk menulis tentang kegiatan kesehariannya, perasaan, pengalaman yang diala­minya, gagasan, atau tanggapannya tentang sesuatu. Pada pertemuan kedua, guru memancing gagasan siswa untuk menulis dengan berandai-andai melalui kegiatan tanya-jawab.
Penilaian Autentik dengan Memanfaatkan Tulisan dalam Jurnal Siswa
Dalam tiap siklus penilaian autentik tulisan Jurnal siswa dilakukan oleh Guru dan siswa. Penilaian Guru mencakup penilaian proses dan penilaian hasil yang dilakukan secara berkelanjutan selama tindakan. Kegiatan penilaian oleh siswa mencakup penilaian hasil tulisan yang dilakukan oleh diri sendiri dan rekan sejawat /antarsiswa.
Kegiatan penilaian oleh siswa akan dilakukan dua kali. Penilaian pertama. berupa penilaian diri seridiri dilakukan setelah kegiatan tertulis kesatu dan kedua. Penilaian tiang kedua berupa penilaian rekan sejawat dilakukan telah kegiatan menulis ketua dan keempat. Dalam penilaian sejawat siswa diminta untuk memilih salah satu tulisannya untuk saling dipertukarkan dan dinilai oleh temannya. Untuk rnembantu siswa me!akukan penilaian terhadap tulisannya, guru menyediakan pan­duan penilaian. Selama siswa melakukan penilaian, guru akan senantiasa memberikan bimbingan pada siswa.
Siswa penilai mencermati dan mengoreksi kesalahan-kesalahan terse­but. Siswa penilai pun memberi penilaian berupa bintang tiga atau berkategori baik. Siswa penilai juga memberikan penanda dan catatan bagian-bagian yang sebaiknya diperbaiki.
Penilaian oleh guru dilakukan secara berkelanjutan dengan menilai kualitas paragraf yang dihasilkan siswa tiap pertemuan dan mencatat kesalahan-kesalahan yang kerap dilakukan siswa.
Hasil penilaian autentik ini juga menjadi laporan tentang perkembangan menulis siswa, khususnva menulis paragraf. Dan pencatatan dan analisis hasil tulisan setiap pertemuan diperoleh informasi tentang perkembangan keterampilan siswa selama mendapat tindakan. Hasil dukumentasi penilaian itu selanjutnva menjadi bahan pertimbangan perencanaan pembe­lajaran selanjutnya.
Pembahasan Hasil Peningkatan Kemampuan Menulis Paragraf Siswa
Hasil penelitaan tindakan ini menunjukkan bahwa dengan pembiasaan menulis jurnal secara berkelanjutan, siswa menjadi terbiasa menulis paragraf dan keterampilan menulis paragrafnya pun meningkat. Indikator peningkatan keterampiian menulis paragraf tersebut dapat dilihat dari tiga hal yaitu (1) kuantitas gagasan yang dihasilkan, (2) kualitas paragraf: dan i:cantus~asan aktivitas dan motivasi siswa.
Peningkatan pertama terlihat dari jumlah gagasan dan pilihan topik. Jumlah gagasan yang ditulis ber­tambah banyak serta memper­lihatkan cara pemalu yang beragam, tidak datemukan lagi paragraf yang hanya terdiri dari satu kalimat. Peningkatan tersebut teriadi pada tiap siklus tindakan.
            Kualitas paragraf yang dihasilkan memperlihatkan pening­katan. Peningkatan kualitas tersebut mencakup aspek pengembangan topik, pengorganissia gagasan, penggunaan pilihan kata, tata bahasa, serta ejaan dan tanda baca yang secara bertahap semakin baik.  Pada siklus I kualitas paragraf siswa rata-rata berkualitas cukup, cukup maka pada siklus II dan III meningkat menjadi baik. Dengan kata lain, paragraf yang ditulis siswa umumnya telah memiliki gagasan utama dan gagasan pengembang yang jelas. Gagasan-gagasan itu dikembangkan secara logis dengan pengorganisasian yang baik. Struktur kalimat dan peralihan antar gagasan dalam paragraf sudah memperlihatkan keefektifan, hal tersebut teriihat dari sedikitnya kesalahan dalam penggunaan konjungsi. Kosa-kata yang digunakan juga cukup tepat dan dapat mewakiii gagasan yang dikemukakan. Beberapa kesalahan tata bahasa dari mekanik tulisan masih diketemukan, tetapi tidak banyak dan tidak sampai mengaburkan makna gagasan yang dikemukakan.
Seiain itu, jumlah pilihan topik tulisan yang dihasilkan, sangat beragam. Hal itu menunjukkan bahwa siswa bahwa siswa telah dapat menentukan berbagai bahan, gagasan yang dapat mereka tulis. Pada siklus 1 terjadi peningkatan aktivitas siswa selama pelaksanaan tindakan. Pada siklus I masih banyak siswa yang belum atau kurang aktif untuk menilis. Namun, pada siklus II dan III jumlah siswa yang aktif  dan sangat aktif menulis terus meningkat. Bahkan, pada akhir siklus III tidak terlihat siswa yang pasif atau tidak menulis jurnalnya.
Peningkatan tersebut dapat tercapai karena bimbingan Guru yang diberikan secara dinamis dan tidak prosedural. Sekalipun menulis jurnal bersifat menulis informai. tetapi bimbingan tetap diberikan sehingga dapat menggali ide-ide kreatif siswa dalam menentukan topik dan mengemukakan gagasan. Guru jug berupaya mengaitkan kegiatan menulis jurnal tersehut dengan konteks kehidupan atau materi pembelaiaran sehingga gagasan yang ditulis dapat merefleksikan perkembangan hasil belajar dan perkembangan pribadi siswa. Selain itu, respon tertulis vang, diberikan yang ternyata mampu meningkatkan motivasi untuk menulis. Motivasi itu tumbuh karena siswa merasa guru menghargai dan peduli dengan apa vang ditulisnya.
Pada awal pembiasaan menulis jurnal, siswa banyak membutuhkan waktu untuk menghasilkan sebuah paragraf. tetapi setelah beberapa kali menulis siswa menjadi semakin terampil. Bahkan dalam perkem­bangannya siswa mau membuat buram tulisannya di rumah, meskipun guru tidak menugaskan ha1 itu. Dam­paknya, pemberian waktu sepuluh sampai lima beias menit yang awalnya terkesan mengurangi waktu pembe­lajaran pokok dapat dimanfaatkan secara efektif, menjadi berharga, dan lebih bermakna dalam upaya melatih keterampilan menulis siswa.
Dampak positif lain yang ditemukan dari pembiasaan menulis jurnal adalah tumbuhnya kemauan dan keterbukaan siswa untuk mengkomu­nikasikan atau mengekspresikan secara tertulis berbagai masalah atau peristiwa yang dialami. Selain itu, kehbngungan siswa menentukan topik atau kalimat pertama saat mulai menulis dapat teratasi melalui pem­biasaan menulis jurnal.
Rangkaian pelaksanaan tindakan menulis jurnal adalah kegiatan pe­nilaian autentik dengan meman­faatkan tulisan-tulisan jurnal siswa. Pe­nilaian autentik ini meiiputi ke­giatan pe­nilaian diri sendiri, pe­nilaian sejawat antar siswa, dan pe­ni­laian oieh guru. Kegiatan penilaian autentik ini men­jembatani kesenjangan antara menulis jurnal sebagai kegiatan menulis informai dengan pembelajaran keterampilan menulis paragraf secara formal di sekolah.
Ada empat indikator pening­katan keterarnpilan menulis paragraf siswa yang tampak sebagai dampak dari tindakan penilaian autentik yang dilakukan oleh siswa. Keempat indikator itu adalah ( 1 ) meningkatnya kemampuan mengidentifikasi berbagai kesalahan penggunaan ejaan dan tanda baca yang terdapat daiam sebuah tulisan. (2) meningkatnya kemampuan mengidentifikasi kalimat yang sumbang dalam paragraf (3) meningkatnya kemampuan mengo­reksi dan memperbaiki struktur kalimat yang kurang tepat, dan (4) meningkatnya kemampuan untuk mengidentifikasi dan memperbaiki pilihan kata yang kurang tepat.
Penilaian autentik ini juga mendorong siswa untuk mengkon­struksi sendiri pengetahuan­nya tentang kaidah-kaidah teknik penulisan yang benar karena siswa belajar dari mencermati, mengidentifikasi kesala­han-kesalahan dalam tulisan, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan tersehut. Kemampuan mengiden­tifikasi berbagai kesalahan tersebut mendorong siswa untuk menulis paragrah secara lebih cermat sehingga tidak mengulangi kesalahan serupa saat menulis paragraf dalam jurnal berikutnya. Di sisi lain, semangat kerja sama dan percaya diri siswa semakin terbangun melalui kegiatan ini. Siswa belajar untuk bersikap jujur dan berani menilai serta menghargai hasil pekerjaannya sendiri maupun pe­kerjaan temannya.
Penilaian autentik yang dilakukan guru juga berpengaruh terhadap peningkatan keterarnpilan menulis paragraf` siswa karena Guru tidak sekedar memberikan penilaian langsung pada hasil tulisan sisw.a, tetapi mengumpuikan informasi berdasarkan aktivitas siswa saat menulis dan mereatat kesalahan-Kesalahan yang cenderung dan kerap dilakukan siswa dalam tulisannya. Informasi ini berguna untuk peren­canaan dan penyesuaian kebutuhan belajar siswa. Guru juga melakukan penilaian dengan mendokumentasikan perkembangan kualitas tulisan siswa tiap pertemuan secara berkesi­nambungan karena hasil dokumentasi itu memberikan gambaran tentang peningkatan kemampuan menuiis paragraf siswa yang sebenarnya.
SIMPULAN
Simpulan
Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah adalah rendahnva keterampilan menuiis paragraf siswa. Hal itu terlihat dari rendahnva kualitas paragraf yang dihasilkan siswa. Siswa juga kurang antusias dan mengalami kesulitan ketika mendapat tugas untuk menulis. Hal tersebut diindikasikan karena pembelajaran menulis yang dilakukan belum mendorong dan membentuk kebiasaaan siswa untak menulis. Pembelajaran menulis yang disajikan belum memberi kesempatan banyak pada siswa untuk menulis. Di sisi lain penilaian keterampilan menulis juga belum dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut; salah satu alternatif tindakan yang dapat diterapkan adalah penerapan kegiatan menulis jurnal dan memanfaatkan hasil tulisan siswa dalam jurnal untuk penilaian autentik.
Penerapan kegiatan menuiis jurnai ini dapat memberikan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk mengekspresikan gagasan secara tertulis. Dengan terbiasa dan lebih sering menulis, kualitas paragraf-paragraf yang dihasilkan dapat semakin baik. Dengan, terbiasa menulis kreativitas siswa dalam menulis pun meningkat. Siswa semakin mudah dan terbiasa menemukan berbagai bahan atau gagasan yang dapat ditulisnya.
Penerapan autentik oleh siswa maupun guru dengan memanfaatkan hasil tulisan jurnal siswa juga dapat memberi pengaruh yang besar terhadap peningkatan keterampilan menulis paragraf siswa. Dengan menilai hasil tulisannya sendiri maupun hasil tulisan teman; siswa dapat mengkonstruksi dan menemukan sendiri pengetahuannya Siswa belajar dari berbagai kesalahan untuk menulis lebih baik. Di Sisi lain guru juga dapat memanfaatkan hasil autentik tulisan dalam jurnal siswa sebagai sumber informasi untuk melibat perkembangan belajar siswa. Dalam pelaksanaannya. kegiatan menulis jurnal dan penilaian autentik tersebut dilakukan secara terpadu dan terintegrasi dengan kegiatan pokok pembelajaran bahasa lndonesia.
DAFTAR RUJUKAN
Depdikbud. 1999. Penelitian Tindakan (Action Research). Ba­han Pelatihan Jakarta: Dikdasmen Depdikbud.
Capacchione. L. 1989. The Creative Journal For Children: A Guide for Parents, Teacher, and Counselors. Boston: Shambala.
Eanes, R. 1997. Content Area Literacy: Teaching Today’s and Tomorrow. New York: Delmar Publisher.
Elliot, J. 1991. AN. Action Reseach for Educational Change. Buckingham: Open University Press.
Laonhardt, M.2001. 99 Cara Menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis. Terjemahan oleh Eva Y. Nukman. 2001. Bandung Kaifa.
Nurhadi & Senduk, A.G. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.
Saukah, A. 1999. Prinsip Dasar Penilaian Pendidikan Bahasa. Bahasa dan Seni. Tahun 27, Nomor 1, Pebruari 1999, Hal; 19- 33.
Saukah, Ali. 2001. The Teaching Writing and Grammar. Bahasa dan Seni. Tahun 28, Nomor 2, Agustus 2000, Hal. 191-199.
Suparno, 2001. Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekatan Kontekstual. Makalah disajikan pada Simposium di Wisma Jaya, Bogor. Direktorat SLTP, Dirjen Dikdasmen. November, 2001.
Tompkins, G.E & Hoskisson, K. 1991. Language Arts : Content and Teaching Strategis. New York: Macmillan.
Tompskin, G.E. 1994. Teaching Writing Balancing Process and Product. New York: Macmillan.  

2 komentar

saya mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia
Artikel yang menarik, bisa buat referensi ini ..
terimakasih ya infonya :)

Terima Kasih atas Tanggapannya

Write Down Your Responses