PEMBELAJARAN TERPADU DALAM PENGAJARAN IPS DI KELAS III SD INPRES 6/75 TA KECAMATAN TANETE RIATTANG KABUPATEN BONE


PEMBELAJARAN TERPADU DALAM PENGAJARAN IPS DI KELAS III SD INPRES 6/75 TA KECAMATAN TANETE RIATTANG
 KABUPATEN BONE

Oleh:
Hj. Naimah Sulaeman
Guru SD Inpres 6/75 Ta Kecamatan Tanete Riattang

Abstrak: Data yang digunakan pada penelitian adalah hasil belajar siswa yang dilakukan melalui tes. Tes ini untuk mengungkap perolehan hasil belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran, baik tes awal yaitu tes yang dilakukan sebelum diberikan perlakuan maupun tes akhir yaitu tes yang diberikan setelah perlakuan. Sedangkan teknik non tes digunakan  untuk mengungkap sikap, motivasi, dan minat anak yang merupakan dampak pengiring dari proses pembelajaran. Data dianalisis dengan menggunakan  rumus statitstik Analisis Varian Satu Jalur (One Way Analysis of varians. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan perolehan hasil belajar antara pembelajaran terpadu dengan pembelajaran konvensional. Hal ini dapat dilihat dari perolehan  hasil uji Anova Satu Jalur  yang menunjukkan  bahwa Fhitung (11,73) > Ftabel (4,38). Dengan demikian  berarti ada perbedaan yang signifikan antara pembelajaran terpadu dengan pembelajaran konvensional. Dari hasil kelompok eksperimen terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai hasil belajar siswa sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran. Hasil post-test naik secara meyakinkan diobandingkan dengan hasil pre-test. Demikian juga kelompok kontrol, terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai belajar siswa sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran. Pembelajaran terpadu lebih efektif dari pada pembelajaran konvensional dalam hal perolehan hasil belajar. Hal ini dapat dilihat dari perolehan mean atau nilai rata-rata kelas pembelajaran terpadu sebesar 20,00 lebih  sedangkan   mean atau nilai rata-rata kelas  pembelajaran konvensional  sebesar 15,00

Kata Kunci: Pembelajaran Terpadu, Pengajaran IPS

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1990 disebutkan bahwa tujuan kelembagaan Sekolah Dasar (SD) adalah  memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, dan mengembangkan, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Sementara itu, tujuan pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD adalah agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari serta menumbuhkan rasa kebangsaan dan bangga terhadap perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994). Selain itu dengan pendidikan IPS dikembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan sosial dalam rangka membentuk dan mengembangkan pribadi warga negara yang baik.
Untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan IPS tersebut perlu dukungan, antara lain, iklim pembelajaran yang kondusif. Iklim belajar yang dikembangkan oleh guru mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan dan kegairahan belajar siswa. Wahab (1996) mengemukakan bahwa kualitas dan keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru memilih dan menggunakan metode pembelajaran.
Namun di lapangan sering kita temui guru mengajarkan mata pelajaran IPS secara konvensional, terpisah-pisah antara ilmu bumi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi. Tidak ada usaha untuk menghubungkan satu sama lain, serta tidak ada usaha untuk mengkaitkan dengan  kejadian aktual dalam masyarakat. Akibatnya, pelajaran IPS bagi siswa tidak mempunyai makna dan cenderung kearah teoritis belaka sehingga sulit bagi siswa untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran IPS yang  penyajiannya masih terpisah-pisah demikian mengakibatkan siswa merasa dan beranggapan IPS sebagai pelajaran yang kering, tidak menarik, dan membosankan. 
Dalam dokumen kebijakan pengembangan kurikulum yang dikutip Somantri (1995), pembelajaran IPS di SD dihimbau untuk menggunakan pendekatan terpadu karena dengan pendekatan terpadu akan menjadikan mutu pembelajaran IPS semakin bermakna sehingga dapat meningkatkan perolehan prestasi belajar. Syah (dalam Ningrum, 2002) berpendapat bahwa sifat materi IPS yang banyak memuat materi sosial dan bersifat hafalan membawa konsekuensi terhadap proses belajar mengajar yang didominasi guru sedangkan siswanya cenderung pasif. Padahal dalam proses belajar mengajar keterlibatan pikiran, penglihatan, pendengaran, dan psikomotor sangat diperlukan sehingga guru harus melibatkan siswa secara aktif. Situasi belajar seperti ini dapat tercipta melalui penggunaan pembelajaran terpadu
Erat hubungannya dengan masalah pendekatan terpadu, bahan atau isi IPS sekarang tidak memperlihatkan struktur dan tingkat pengetahuan ilmu sosial. Keseluruhan isi buku IPS lebih banyak didiisi dengan informasi (Somantri, 1995). Keadaan yang demikian tidak memacu peserta didik untuk berfikir kritis, analitis, dan kreatif karena siswa cenderung untuk menghafal informasi yang ada.
PENGAJARAN IPS
Sanusi (1998) mengemukakan bahwa pengajaran IPS di sekolah cenderung menitik beratkan pada penguasaan hafalan, proses pembelajaran yang terpusat pada guru sehingga terjadi banyak miskonsepsi, situasi membosankan siswa, ketidak mutakhiran sumber belajar yang ada, dan pencapaian tujuan belajar yang kognitif. Pembelajaran yang demikian menyebabkan rendahnya percaya diri siswa akibat lunaknya isi pelajaran dan kontradiksi materi dengan kenyataan. Ditambahkan oleh Sanusi perlunya reorientasi pengembangan yang mencakup peningkatan mutu SDM. Dengan demikian guru lebih mampu mengembangkan kecerdasan anak secara optimal melalui variasi interaksi dan pemanfaatan media dan sumber belajar yang menantang.
Dari hasil pengamatan di lapangan  yang dilakukan peneliti pada survei awal penelitian ini, guru dalam pembelajaran IPS di SD masih banyak yang belum menggunakan prinsip belajar mengajar secara optimal. Pendekatan lebih ditekankan pada model konvensional yang banyak diwarnai dengan ceramah dan bersifat guru sentris sehingga kurang mampu merangsang siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar (Al Muchtar, 1995; Jarolimek, 1986). Suasana belajar seperti ini semakin menjauhkan peran pendidikan IPS dalam upaya mempersiapkan warga negara yang baik dan mampu bermasyarakat (Jahiru, 1994).
Lebih lanjut dikemukakan oleh Jahiru (1994) bahwa pola pembelajaran yang demikian nampaknya tidak mampu mendorong siswa untuk mengaktualisasikan potensi diri secara optimal dan mematikan kreatifitas anak. Di samping itu akibat pembelajaran yang demikian  siswa tidak merasa tertarik dengan pelajaran IPS, merasa bosan dan bersikap pasif, serta tidak mempunyai motivasi untuk mempelajarinya sehingga berpengaruh pada perolehan hasil belajar.
Untuk itu perlu diupayakan suatu pendekatan yang mengarah kepada sikap kritis dan kepekaan siswa terhadap lingkungannya. Pendekatan pembelajaran yang mengarah kepada pengembangan sikap tersebut dapat diterapkan melalui pendekatan terpadu. Hal ini karena  dalam pembelajaran terpadu siswa memahami konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkan  konsep awal dengan konsep yang mereka terima selama pembelajaran. Jika dibandingkan dengan pendekatan konvensional maka pendekatan terpadu lebih menekankan keterlibatan siswa dalam belajar sehingga siswa mampu mengambil keputusan. Winataputra (2002) mengemukakan guru  yang menggunakan langkah yang sitematis dengan menjelaskan keterkaitan antara bermacam disiplin ilmu dalam IPS akan mampu memecahkan masalah dengan baik sehingga pemahaman konsep ilmu, dan teknologi serta masyarakat dapat dijembatani melalui proses pembelajaran IPS secara terpadu.
Adapun cirri-ciri pembelajaran secara terpadu menurut Fogarty (1991) adalah (1) berpusat pada anak, (2) memberikan pengalaman langsung pada anak, (3) pemisahan bidang studi tidak begitu jelas, (4) menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran, (5) bersifat luwes, serta (6) hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak
Mengingat bahwa tujuan pembelajaran IPS di SD  adalah untuk memperkenalkan siswa kepada pengetahuan tentang kehidupan masyarakat manusia secara sistematis dan upaya menyiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik, akan bermakna  apabila yang diajarkan bukanlah teori-teori sosial atau ilmu sosial melainkan hal yang praktis dan berguna bagi dirinya dalam kehidupan dengan lingkungan masyarakat.
Agar dapat mencapai tujuan  pendidikan IPS ini diperlukan pendidikan latihan bagi guru untuk meningkatkan kemampuan dalam berbagai aspek pembelajaran  termasuk di dalamnya adalah strategi atau pendekatan pembelajaran. Guru juga dituntut untuk mampu mengikuti dan mengantisipasi berbagai perubahan masyarakat sehingga program pembelajaran yang dilakukan dapat membantu siswa dalam mempersiapkan dirinya sebagai warga masyarakat dan warga negara yang baik sesuai dengan tujuan yang telah  ada. Guru harus cermat dalam memilih  model pembelajaran sehingga pembelajaran yang dilakukan menjadi menarik, aktual, dan bermakna bagi siswa.
Perbedaan karakteristik siswa SD dicerminkan dari keinginan mereka untuk menampilkan perbedaan individual dalam banyak hal. Hal ini berpengaruh terhadap kegiatan belajar mengajar di sekolah. Perbedaan tersebut meliputi perbedaan kecerdasan, kemampuan berkomunikasi, perkembangan pribadi, dan juga perkembangan fisik. Guru dapat menyajikan pelajaran dengan variasi materi, metode, dan pendekatan yang sesuai dengan tuntutan masing-masing karakteristik siswa (Natawidjaya & Moesa, 1992).
Pembelajaran di SD hendaknya memperhatikan empat prinsip 1) prinsip latar belakang, adalah keadaan dimana siswa telah mengetahui hal lain secara langsung atau tidak langsung dengan bahan yang akan dipelajari 2) prinsip belajar sambil bekerja sangat penting karena pengalaman yang diperoleh melalui bekerja tidak mudah dilupakan 3) prinsip belajar dan bermain, penting karena bermain merupakan keaktifan siswa yang dapat menimbulkan suasana yang menyenangkan. Suasana seperti ini akan mendorong siswa untuk belajar lebih giat 4) prinsip belajar keterpaduan, mengharapkan agar guru dalam menyampaikan materi hendaknya mengaitkan antara materi yang satu dengan materi yang lain, baik dalam satu bidang studi maupun dengan bidang studi lainnya. Pemaduan konsep dapat membuat materi pelajaran lebih bermakna (Depdikbud, 1994).
Ditinjau dari ruang lingkup bahan pengajaran Kurikulum 1994 menggunakan pendekatan spiral yaitu pengajaran yang dimulai dari lingkungan terdekat dan sederhana sampai kepada lingkungan yang kompleks. Dengan demikian sangat tepat jika dengan pendekatan ini guru mengajarkan IPS menggunakan pendekatan terpadu dengan mengaitkan hal-hal yang aktual yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Tujuan Pembelajaran IPS
Tujuan pembelajaran IPS adalah menguasai konsep ilmu sosial dalam berbagai segi, persepsi, visi, dan misinya. Di samping itu proses pembelajaran IPS dituntut dapat mewujudkan dwifungsi yaitu sebagai ilmu dan juga sebagai alat pendidikan atau edukatif pragmatik yang harus mampu mengatasi permasalahan kehidupan manusia.
Dalam pembelajaran Pendidikan IPS, manajemen sumber belajar sangat penting sehingga alternatif pemilihan materi ajar lebih bersifat strategis dan menghindari text book thinking. Sesuai dengan metodologi pengajaran, pendidikan IPS dapat ditampilkan dalam kombinasi pembelajaran berbasis inkuiri, problematika, kontribusi, dan etos kerja aktual. Hal tersebut dapat direalisasi dengan menggunakan Model Pembelajaran Terpadu. Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep merupakan pembelajaran yang melibatkan beberapa pokok bahasan, sub pokok bahasan, atau beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada  siswa. Dengan pendekatan terpadu siswa akan  memahami konsep yang dipelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah dipahami sebelumnya (Joni, 1996).
Pembelajaran IPS akan berjalan secara efektif apabila digunakan sistem pembelajaran terpadu karena siswa secara aktif terlibat dalam proses belajar dan pembuatan keputusan. Hal ini sesuai apa yang dikemukakan oleh Schillings (1994), bahwa pembelajaran IPS akan  lebih bermakna bila menggunakan pembelajaran terpadu karena  manusia tidak bisa melepaskan diri dari masalah sosial dan perlu memiliki  kemampuan terpadu tentang cara pemecahannya. Sementara itu, Joni (1996) mengemukakan bahwa pembelajaran terpadu lebih menekankan keterlibatan siswa dan kegiatannya bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS dengan pendekatan pembelajaran terpadu akan menumbuh kembangkan keterampilan sosial.
Piaget (dalam Hadisubroto dan Herawati, 1998) mengemukakan bahwa kemampuan untuk bergaul dengan hal yang bersifat lebih abstrak yang diperlukan untuk mencerna gagasan dalam berbagai mata pelajaran akademik umumnya baru terbentuk pada usia kelas akhir SD dan berkembang lebih lanjut dengan meningkatnya usia. Oleh karena itu pengemasan pengalaman belajar yang dirancang untuk murid akan sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman tersebut. Pengemasan pengalaman belajar yang memenuhi tuntutan tersebut adalah dalam bentuk pembelajaran terpadu. Dalam pembelajaran terpadu terjadi kaitan pengalaman yang bermakna sedangkan pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur konseptual akan meningkatkan peluang bagi terjadinya pembelajaran yang lebih efektif. Dengan kata lain, pembelajaran terpadu bertujuan agar pembelajaran terutama di SD menjadi lebih efektif.
PEMBELAJARAN TERPADU
Menurut Hadisubroto dan Herawati (1998), ada tiga model  pembelajaran terpadu, yaitu :
1. Pembelajaran Terpadu Model Terkait
Model terkait adalah model pembelajaran terpadu yang paling sederhana. Konsep, keterampilan, atau kemampuan yang ditumbuh-kembangkan di dalam suatu pokok bahasan atau sub pokok bahasan dikaitkan dengan konsep, keterampilan, atau kemampuan pada pokok bahasan atau sub pokok bahasan lain dalam satu bidang studi. 
2. Pembelajaran Terpadu Model Terjala
Berbeda dengan pembelajaran terpadu model terkait terjala ini pelajaran dimulai dari suatu tema. Tema diramu dari pokok-pokok bahasan atau sub pokok bahasan dari beberapa bidang studi yang dijabarkan dalam konsep keterampilan, atau kemampuan yang ingin dikembangkan. Pembelajaran melalui tema ini dapat disoroti melalui beberapa bidang studi.
3. Pembelajaran Terpadu Model Terpadu
Berbeda dengan model-model pembelajaran terpadu  sebelumnya, dalam model terpadu ini pelajaran dimulai dengan pembahasan pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang diprioritaskan dan tumpang tindih. Pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang tumpang tindih ini berasal dari tiga atau lebih bidang studi yang dirancang untuk diajarkan secara terpadu. Pokok bahasan ini harus dikaji terlebih dahulu dalam GBPP kemudian diperkirakan untuk memperoleh prioritas
Pada penelitian ini  model pembelajaran yang akan digunakan adalah  pembelajaran terpadu model terjala atau model antar bidang studi karena subyek penelitiannya siswa SD kelas III SD Inpres 6/75 Ta Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone yang ditinjau dari perkembangan kognitifnya masih belum mampu menggunakan taraf berfikir tinggi. Di samping itu materi IPS SD kelas III SD Inpres 6/75 Ta  Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone masih sederhana belum sekompleks materi  kelas tinggi.
Perencanaan pembelajaran terpadu merupakan rangkaian isi dan kegiatan pembelajaran yang menyeluruh, sistematis yang merupakan pedoman dalam mengelola dan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran yang  dikembangkan  harus disesuaikan dengan model pembelajaran yang dipilih. Pembelajaran terpadu yang diharapkan adalah terpadu dalam materi, terpadu dalam proses, dan terpadu antar kurikulum dengan kebutuhan siswa, yang untuk  menerapkannya diperlukan perencanaan spesifik. Langkah dalam perencanaan pembelajaran terpadu meliputi: (1) memilih tema yang dapat menjadi awal topik untuk memadukan beberapa bidang studi, (2) melakukan peta konsep untuk menemukan konsep yang terkait di antara mata pelajaran yang ada, (3) memilih aktifitas belajar yang memungkinkan adanya keterpaduan (Depdikbud, 1996).
Alternatif topik dapat ditentukan berdasarkan minat siswa, minat guru, kejadian yang penting dalam waktu tertentu, mengambil topik utama dalam kurikulum, atau mengacu pada kegiatan dan kehidupan masyarakat tertentu (Callins & Hazel, 1991). Langkah yang perlu dilakukan dalam merancang pembelajaran terpadu adalah: (1) mengidentifikasi konsep yang sama, (2) menentukan konsep yang akan dibahas, (3) memilih kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak, (4) menyusun jadwal kegiatan secara sistematis (Lonning & Deforanco, 1994). Konsep yang dipilih dalam pembelajaran terpadu khusus untuk siswa SD sebaiknya berorientasi pada kondisi fisik lingkungan siswa, dan masalah yang dihadapi di dalam lingkungan tersebut (Kovalik & Olsen, 1994).
Evaluasi terhadap pembelajaran terpadu bertujuan untuk mengetahui: (1) apa keuntungan yang dapat diperoleh dengan pembelajaran terpadu, (2) kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu, (3) kualitas program yang disusun. Untuk menilai kualitas program pembelajaran terpadu   dapat dilakukan dengan melihat dua aspek yaitu keterpaduan konsep dan pengorganisasian atau pengelolaannya (Kniep, Fiege, & Soodoak, 1995). Tingkat keterpaduan konsep dapat ditinjau dari segi signifikansi, koherensi dan relevansi. Evaluasi pembelajaran terpadu dapat diartikan sebagai evaluasi yang berupa informasi tentang pencapaian pengetahuan dan pemahaman anak, pengembangan keterampilan anak, pengembangan sosial dan efekti anak dengan memanfaatkan asesmen alternatif dan cara informal (Depdikbud, 1996).
Menurut Joni (1996), pada dasarnya evaluasi pembelajaran terpadu tidak berbeda dengan evaluasi pada pembelajaran konvensional. Oleh karena itu semua asas-asas yang perlu diindahkan dalam evaluasi konvensional berlaku pula bagi evaluasi pembelajaran terpadu. Bedanya dalam pembelajaran terpadu kita harus memberikan perhatian yang cukup banyak pada usaha pembentukan dampak pengiring seperti kemampuan bekerja sama, tenggang rasa, dan toleransi. Evaluasi pembelajaran terpadu mencakup proses dan produk dengan sasaran peserta didik terhadap program. Hasil evaluasi proses dan produk didokumentasikan dalam portofolio. Portofolio ini dapat dijadikan salah satu masukan bagi guru untuk memutuskan nilai peserta didik. Dalam evaluasi terhadap proses pelaksanaan kegiatan, guru mengamati aktivitas siswa, secara individu dan kelompok, pada setiap tahap kegiatan dengan memperhatikan aspek seperti: (1) rasionalitas alasan, (2) peranan siswa dalam semua kegiatan, (3) kerja sama kelompok dan produktivitasnya, (4) penggunaan bahasa dengan benar. Sedangkan evaluasi dalam produk meliputi laporan verbal yang tertulis baik berupa gambar atau metrik (Hadisubroto & Herawati, 1998). Untuk mengetahui keefektifan pembelajaran terpadu dalam pengajaran IPS maka dilakukan penelitian ini.
Dari latar belakang tersebut maka permasalahan  penelitian ini adalah bahwa pengembangan program dan materi IPS pada tingkat dasar lebih banyak memuat aspek pengetahuan, belum secara terintegrasi mengembangkan bahan-bahan yang aktual. Sedangkan proses pembelajarannya cenderung diwarnai oleh orientasi pada pencapaian target kurikulum. Di samping itu adanya kesenjangan dalam pembelajaran, dimana proses hafalan lebih kuat dari pada pengembangan berfikir dan pengembangan nilai,  ditambahkan lagi evaluasi yang lebih menekankan aspek kognitif. Pembelajaran terpola pada interaksi yang monoton satu arah atau guru sentries. Sedangkan sarana pendidikan belum difungsikan untuk memberikan kemudahan dan pemantapan pengalaman belajar anak.
METODE PENELITIAN
Adapun  tujuan  penelitian untuk mengetahui  perbedaan perolehan hasil belajar IPS antara pembelajaran terpadu dengan pembelajaran konvensional dan untuk mengetahui efektifitas pembelajaran terpadu di SD. Sedangkan manfaat penelitian ini  untuk melatih dan mengembangkan cara berpikir kritis dengan mengaitkan hal yang ada di lingkungan anak, bagi guru hasil penelitian ini dapat meningkatkan teknik penyampaian proses belajar mengajar sehingga dapat mengembangkan proses berfikir siswa, dan bagi para praktisi pendidikan  memberi masukan bahwa pembelajaran IPS lebih efektif diberikan pada anak  dengan pembelajaran terpadu.
Data yang digunakan pada penelitian adalah hasil belajar siswa yang dilakukan melalui tes. Tes ini untuk mengungkap perolehan hasil belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran, baik tes awal yaitu tes yang dilakukan sebelum diberikan perlakuan maupun tes akhir yaitu tes yang diberikan setelah perlakuan. Sedangkan teknik non tes digunakan  untuk mengungkap sikap, motivasi, dan minat anak yang merupakan dampak pengiring dari proses pembelajaran. Data dianalisis dengan menggunakan  rumus statitstik Analisis Varian Satu Jalur (One Way Analysis of varians.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

            Tahap pelaksanaan penelitian yang dilakukan meliputi mengkaji silabus membuat, rancangan pembelajaran, mengadakan pre-test, memberi perlakuan, mengadakan observasi, dan diakhiri dengan post-test.
Dari data penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui hasil analisis statistik deskriptif seperti yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Analisis Statistik Deskriptif

Nilai
Pembelajaran
Terpadu
( Kelompok Eksperimen)
Konvensional
(Kelompok Kontrol)
Maksimum
30,00
22,00
Minimum
15,00
  1,00
Mean
20,95
15,00
Median
19,50
15,00
Tremmed-mean
20,78
15,39
Standar deviasi
  5,32
  5,67
Standar error of mean
  1,19
  1,27
Quartil (Q)1
16,25
11,50
Quartil (Q)3
25,00
19,75
N
20
20

Hasil  pengujian hipotesis:
a.       Dengan taraf signifikansi 0,05 diperoleh  bahwa  Fhitung = 11,73 lebih besar dari Ftabel = 4,38, sehingga kesimpulannya ada perbedaan yang signifikan antara Pembelajaran Terpadu dengan Pembelajaran Konvensional terhadap prestasi belajar IPS di kelas III SD Inpres 6/75 Ta Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone .
b.      Penggunaan Pembelajaran Terpadu lebih efektif dari pada Pembelajaran Konvensional dalam hal perolehan hasil belajar. Hal ini dapat lihat perolehan mean antara Pembelajaran Terpadu (mean = 20,95) dan Pembelajaran Konvensional (mean = 15,00), dimana pembelajaran terpadu lebih efektif dari pada pembelajaran konvensional  terhadap  perolehan hasil belajar siswa di SD Inpres 6/75 Ta Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone .

Dalam penelitian ini ditemukan bahwa secara umum prestasi belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran terpadu lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional. Hal ini dapat dilihat dari perolehan nilai rata-rata pembelajaran terpadu lebih besar dari pada rata-rata perolehan nilai pembelajaran konvensional, khususnya pembelajaran IPS. Hal ini disebabkan siswa kelas III SD Inpres 6/75 Ta Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone belum mampu berpikir abstrak karena masa usia  tujuh sampai dua belas tahun anak mengalami perkembangan operasi konkrit sehingga apa yang diajarkan haruslah yang anak dapat dengan mudah mengingat, memanipulasi, mencoba, meraba, dan melakukan dengan tindakan (Woolfolk, 1993).
Berkaitan dengan tahap operasi konkrit, anak usia SD masih lebih menghayati pengalaman sebagai satu totalitas. Hal ini dijelaskan oleh Joni (1996) bahwa anak melihat dirinya sebagai pusat lingkungan yang merupakan suatu keseluruhan yang unsur-unsurnya tidak diketahui secara jelas, anak belum mampu memilah-milah konsep secara abstrak  Dengan pembelajaran terpadu siswa belajar dengan mengkaitkan  mata pelajaran  yang satu dengan pelajaran lain, sesuai dengan prinsip holistik perkembangan anak dengan demikian materi dapat mudah dipahami. Apalagi pembelajaran IPS adalah mata pelajaran baru bagi siswa kelas III SD Inpres 6/75 Ta  Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone sehingga anak belum paham makna pembelajaran ini tanpa mengkaitkan  dengan pelajaran lain. Dan dengan pembelajaran terpadu anak tidak saja belajar secara teoritis tetapi dikenalkan dengan kehidupan sehari-hari.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan di atas maka dapat ditarik dua kesimpulan sebagai berikut ini.
1.    Ada perbedaan perolehan hasil belajar antara pembelajaran terpadu dengan pembelajaran konvensional. Hal ini dapat dilihat dari perolehan  hasil uji Anova Satu Jalur  yang menunjukkan  bahwa Fhitung (11,73) > Ftabel (4,38). Dengan demikian  berarti ada perbedaan yang signifikan antara pembelajaran terpadu dengan pembelajaran konvensional. Dari hasil kelompok eksperimen terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai hasil belajar siswa sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran. Hasil post-test naik secara meyakinkan diobandingkan dengan hasil pre-test. Demikian juga kelompok kontrol, terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai belajar siswa sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran.
2. Pembelajaran terpadu lebih efektif dari pada pembelajaran konvensional dalam hal perolehan hasil belajar. Hal ini dapat dilihat dari perolehan mean atau nilai rata-rata kelas pembelajaran terpadu sebesar 20,00 lebih  sedangkan   mean atau nilai rata-rata kelas  pembelajaran konvensional  sebesar 15,00

Dari temuan hasil eksperimen, diajukan dua saran berikut ini
1.  Dari perolehan hasil belajar nilai rata-rata kelas pembelajaran terpadu lebih baik dari pada pembelajaran konvensional, maka guru diharapkan dapat menerapkan pembelajaran ini dalam pengajaran di sekolah dasar khususnya pembelajaran IPS.
2.  Dalam pengajaran di sekolah dasar hendaknya guru berusaha menggunakan prinsip holistik sesuai dengan perkembangan anak SD yang baru pada tahap berfikir operasi konkrit, dan perlunya mengaitkan materi pembelajaran IPS dengan kehidupan sehari-hari di sekitar anak.

DAFTAR RUJUKAN

Al Muchtar, S. (1995). Arah peningkatan mutu pendidikan IPS di sekolah  dasar (Makalah). Bandung: Laboratorium PIPS SD FPIPS IKIP Bandung.
Callins. E. & Hazel. D. (1991). Integrated learning. Book  Shelf  Publishing. Australia
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1994). Kurikulum pendidikan dasar. Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1996). Pembelajaran terpadu PGSD & S-2 Pendidikan Dasar. Jakarta Depdikbud Republik Indonesia.
Fogarty, R. (1991). The mindful school: How to integrated the curricula palatine, Illinois: IRI / Skylight Publishing Inc.
Hadisubroto, T. & Herawati, I.S, (1998). Pembelajaran terpadu. Jakarta: Universitas Terbuka.
Jahiru, K. (1994). Buku pedoman guru pengajaran IPS SD. Jakarta: Depdikbud
Jarolimek, J. (1986). Social studies in elemetary education. Seventh Edition. New York: Mc Millan Publishing Company
Joni, R. (1996). Pembelajaran terpadu, Makalah Bahan  untuk Program Pelatihan Guru Pamong, BP3GSD Ditjen Dikti.
Kniep, M., Fiege, D.M., & Soodoak, L.C (1995). Curriculum Integration: An Expanded View of a Abused Idea. Journal of Curriculum and Supervision 10 (3) 227-249.
Kovalik, S & Olsen, K (1994). The model integrated thematic instruction. Susan Kovalik Associates. Washington.
Lonning. R.A. & Deforanco. T.C. (1994). Development and implementation of and integrated Matematics/Science preservice elementary methods cource scholl science and matematics 94 (1).18-25
Natawijaya, RR. & Moesa, A.M.(1992). Psikologi pendidikan. Jakarta. Depdikbud Republik Indonesia.
Ningrum, E. (2002). Materi dan pembelajaran IPS SD (Modul 9). Jakarta Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Sanusi, A., (1998). Pendidikan alternatif menyentuh azas dasar persoalan pendidikan dan pemasyarakatan. Bandung PT Grafindo Media Pratama.
Schillings, D. (1994), Curriculum standard for social: National council for the social studies. Washington: United State of America.
Wahab, A. (1996). Metodologi pengajaran IPS. Jakarta: P2 LPTK
Winataputra, U.S, (2002). Materi dan pembelajaran IPS SD. (Edisi kesatu) Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka
Woolfolk, A.E. (1993). Educational psychology. (Fifth Edition). Neethem Heights: M.A. Allyn and Bacan

0 komentar

Write Down Your Responses